Kementerian Ketenagakerjaan dalam Indonesia Human Capital and Beyond Summit 2026 di Kabupaten Tangerang, Selasa (15/9/2026).
PUSATKARIER.COM – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, adopsi kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja harus berorientasi pada manusia dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli saat menjadi pembicara pada Indonesia Human Capital and Beyond Summit 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (15/9/2026).
Menurut Yassierli, pemanfaatan AI berkaitan dengan peningkatan produktivitas sekaligus kebutuhan kompetensi tertentu. Karena itu, pekerja perlu menguasai keahlian bidangnya serta kemampuan memanfaatkan AI dalam pekerjaan.
“Adopsi AI tidak sebatas merekrut tenaga ahli atau menjadikan AI sekadar asisten digital ,” ujar Yassierli, dikutip dari laman Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Sektor dengan tingkat pemanfaatan AI yang tinggi menunjukkan pertumbuhan produktivitas lebih cepat dibandingkan sektor dengan pemanfaatan AI yang lebih rendah. Penggunaan teknologi juga tidak serta-merta mengurangi tenaga kerja secara drastis.
Teknologi justru dapat membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap kompetensi tertentu. Penerapan AI juga berkaitan dengan pembenahan proses kerja agar penggunaannya memberikan hasil yang lebih optimal.
Keberhasilan penerapan AI sangat bergantung pada pembenahan proses kerja, termasuk perancangan ulang alur kerja dan standar operasional prosedur (SOP) yang disertai peningkatan keterampilan pekerja.
“Karena itu, transformasi teknologi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi penguatan daya saing sekaligus pembangunan ketenagakerjaan yang berkelanjutan ,” ujar Yassierli.
Penggunaan AI sebagai asisten operasional rata-rata meningkatkan produktivitas sekitar 5 persen. Jika alur kerja dan SOP dirancang ulang serta diikuti peningkatan keterampilan pekerja, produktivitas berpotensi meningkat 30–40 persen.
Yassierli juga menyampaikan hasil kajian Boston Consulting Group (BCG) terhadap 1.250 perusahaan. Kajian tersebut menunjukkan 60 persen perusahaan pelopor AI belum merasakan manfaat bisnis yang signifikan.
Salah satu penyebabnya berkaitan dengan kesalahan dalam strategi penerapan AI. Karena itu, penerapan teknologi di tempat kerja juga perlu memperhatikan proses kerja dan peningkatan keterampilan pekerja.
Dalam penerapan AI di dunia kerja, Kemnaker mendorong empat prinsip, yaitu memperkuat kemampuan manusia, melibatkan pekerja dan serikat pekerja atau serikat buruh, menjaga pengawasan manusia, serta memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal.
Untuk mendukung penerapan AI yang bertanggung jawab, Kemnaker menjalankan proyek percontohan produktivitas berbasis AI, menyusun panduan resmi penerapan AI di tempat kerja, serta menyiapkan wadah kolaborasi antarperusahaan untuk pertukaran pengetahuan dan pembelajaran.(*)