![]() |
| Kementerian Transmigrasi membahas teknologi kedirgantaraan dalam Kuliah Umum di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Halim, Kamis (10/9/2026). |
PUSATKARIER.COM – Kementerian Transmigrasi mendorong pemanfaatan teknologi kedirgantaraan untuk membuka keterisolasian kawasan sekaligus mempercepat pertumbuhan pusat ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Pemanfaatan teknologi tersebut mencakup citra satelit, pemetaan wilayah, hingga teknologi konektivitas yang dapat mendukung produktivitas, investasi, pembukaan lapangan kerja, serta peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan bahwa arah transmigrasi kini tidak hanya berkaitan dengan perpindahan penduduk, tetapi juga pembangunan kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis industrialisasi.
“Transmigrasi saat ini, saya tidak takut memindahkan orang. Yang saya takut adalah tidak tercapai tujuannya. Concern transmigrasi saat ini adalah menciptakan pertumbuhan baru berbasis kawasan dan industrialisasi. Dari keterisolasian menuju pusat pertumbuhan, di situlah peran teknologi kedirgantaraan dalam transformasi kawasan transmigrasi bekerja,” ujar Iftitah, dikutip dari laman transmigrasi.
Pengembangan kawasan transmigrasi menghadapi tantangan karena sebagian wilayah berada jauh dari pusat ekonomi serta memiliki keterbatasan konektivitas, informasi, dan akses terhadap teknologi.
Salah satu penerapannya berlangsung di Kawasan Transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan pemanfaatan teknologi citra satelit untuk mendukung pengembangan industrialisasi tebu.
Pemanfaatan teknologi satelit di kawasan tersebut melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam. Penerapan ini menjadi bagian dari pertanian modern dalam pengembangan kawasan.
“Saat ini di Kawasan Transmigrasi Melolo telah berjalan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung industrialisasi tebu. Ini contoh konkret pertanian modern menggunakan teknologi citra satelit, dengan melibatkan ilmuwan untuk membantu mendeteksi tanaman tebu yang cocok ditanam di sana,” terangnya.
Selain pertanian, pengembangan kawasan transmigrasi mencakup sektor maritim, pariwisata, industri berbasis sumber daya lokal, hingga sektor ekonomi baru yang disesuaikan dengan karakteristik setiap kawasan.
Menurut Menteri Iftitah, pengembangan industrialisasi di luar Pulau Jawa berkaitan dengan pembukaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, pertumbuhan aktivitas ekonomi, serta peningkatan penerimaan negara.
“Bukan hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi bagaimana kita membangun industrialisasi di luar Pulau Jawa. Dengan adanya industrialisasi, lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, dan pada akhirnya aktivitas ekonomi serta penerimaan negara juga tumbuh,” ujarnya.
Untuk mempercepat transformasi tersebut, Kementerian Transmigrasi menjalankan program Transmigrasi Patriot yang mempertemukan ilmu pengetahuan dan inovasi perguruan tinggi dengan persoalan nyata di kawasan transmigrasi.
Kawasan transmigrasi melalui program tersebut menjadi “laboratorium hidup” bagi akademisi dan mahasiswa untuk menguji sekaligus menerapkan ilmu yang dapat memberikan solusi langsung bagi masyarakat.
Di hadapan mahasiswa Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Menteri Iftitah juga mengajak generasi muda melihat kawasan transmigrasi sebagai ruang pengembangan teknologi, industri, dan ekonomi baru.(*)
