![]() |
| Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meninjau pelaksanaan program pemagangan nasional di Jakarta pada Rabu (04/02/2026) - (Foto kemnaker) |
Keputusan tersebut diambil menyusul kesuksesan pelaksanaan program serupa pada tahun sebelumnya. Skema ini dirancang secara sistematis untuk menghubungkan kompetensi akademis dengan kebutuhan praktis yang ada pada sektor industri skala nasional.
Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, memberikan keterangan resmi mengenai penambahan kuota besar tersebut saat melakukan peninjauan lapangan pada salah satu perusahaan mitra penyelenggara di wilayah Jakarta baru-baru ini.
“Pemerintah akan kembali membuka kesempatan bagi para lulusan baru perguruan tinggi pada pertengahan tahun 2026 dengan kapasitas minimal 100 ribu peserta pemagangan,” ujar Teddy, dikutip dari laman KEMNAKER, Rabu (04/02/2026).
Teddy memberikan rincian mengenai fasilitas serta sistem pendampingan yang akan diterima oleh setiap individu selama mengikuti proses belajar di lingkungan kerja profesional ataupun pada berbagai instansi pemerintah.
“Yang terpenting, peserta pemagangan benar-benar belajar langsung di perusahaan/instansi pemerintah, didampingi mentor, memperoleh pengalaman kerja nyata, dan menerima uang saku sesuai upah minimum kabupaten/kota setempat,” jelas Seskab mengenai keunggulan program tersebut.
Pemberian uang saku yang merujuk pada Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) menjadi instrumen penting dalam menjaga standar kesejahteraan peserta. Hal ini memastikan para lulusan perguruan tinggi mendapatkan apresiasi yang layak secara finansial.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, menambahkan bahwa perluasan kemitraan dengan sektor swasta memperbesar peluang peserta untuk menguasai berbagai bidang spesifik secara mendalam. Berikut fakta penting mengenai rencana program pemagangan nasional 2026:
Pelaksanaan program pemagangan gelombang pertama direncanakan mulai bergulir secara efektif pada semester pertama tahun 2026.
Pemerintah menggandeng perusahaan lintas sektor, termasuk industri manufaktur, teknologi, hingga sektor jasa kecantikan serta kesehatan.
Sistem pemagangan mengutamakan bimbingan mentor profesional untuk memastikan terjadinya transfer pengetahuan teknis secara optimal.
Salah satu alumni program tahun 2025, Hana Meita Sitepu, membagikan pengalaman pribadinya mengenai manfaat langsung yang didapatkan selama menjalani praktik kerja pada industri kosmetik berskala besar di Indonesia.
“Program pemagangan ini memberikan wawasan praktis yang mendalam tentang dunia industri kecantikan yang sesungguhnya, di luar teori yang saya peroleh di bangku perkuliahan,” ungkap Hana menceritakan proses pembelajaran profesionalnya.
Pemerintah menempatkan program ini sebagai langkah strategis jangka panjang dalam mencetak tenaga kerja yang memiliki daya saing global. Fokus utama tetap berada pada upaya nyata dalam menurunkan angka pengangguran terdidik.(*)
