PTPN IV PalmCo Catat Produksi CPO 1,2 Juta Ton, Kebutuhan Kompetensi Industri Sawit Ikut Berkembang

PTPN IV PalmCo dalam kegiatan produksi CPO di lingkungan perkebunan sawit pada Sabtu (12/9/2026).
PUSATKARIER.COM – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mencatat produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) lebih dari 1,2 juta ton pada semester I-2026.

Pada periode yang sama, tingkat rendemen CPO tercatat 23,47 persen, sedangkan rata-rata produktivitas CPO berada pada 2,18 ton per hektar. Capaian tersebut menjadi bagian dari kinerja operasional perusahaan.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan konsistensi mutu dan keandalan pasokan menjadi bagian penting dalam hubungan perusahaan dengan pelanggan, yang mayoritas berasal dari segmen business to business (B2B).

"Pelanggan di sektor industri membutuhkan jaminan bahwa bahan baku yang mereka serap diproduksi melalui tata kelola agronomi dan pabrik yang efisien," ujar Jatmiko, dikutip dari laman ptpn4.

Capaian produksi dan rendemen pada paruh pertama 2026 menjadi salah satu indikator kinerja operasional PalmCo. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebutuhan industri pengguna CPO terhadap kepastian volume dan spesifikasi bahan baku.

Di sisi lain, kebutuhan pembeli terhadap produk sawit kini juga mencakup informasi mengenai sumber bahan baku serta proses produksi. Hal tersebut membuat transparansi dan ketertelusuran menjadi perhatian dalam rantai pasok.

"Transparansi dan ketertelusuran adalah hak pelanggan yang wajib kami penuhi," ujar Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV PalmCo Rury C Baskoro dalam keterangan yang dimuat laman ptpn4.

Hingga semester I-2026, sebanyak 67 pabrik kelapa sawit (PKS) dan 124 kebun yang dikelola PalmCo telah memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Sertifikasi tersebut menjadi salah satu instrumen untuk menunjukkan penerapan standar produksi sawit berkelanjutan, dengan aspek yang mencakup pengelolaan lingkungan, kondisi kerja, serta hubungan dengan masyarakat sekitar perkebunan.

Penguatan aspek keberlanjutan juga berkaitan dengan meningkatnya tuntutan pasar terhadap penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG), khususnya bagi produk yang terhubung dengan pasar ekspor.

Dengan kebutuhan pasar yang mencakup mutu, kepastian pasokan, asal-usul bahan baku, serta proses produksi, pengelolaan rantai pasok menjadi bagian penting dalam memenuhi persyaratan pembeli produk sawit.(*)