Ekspor Lidi Sumut Capai Rp197,29 Miliar, Peluang Ekonomi UMKM Makin Terbuka

Badan Karantina Indonesia melalui Karantina Sumatera Utara menggelar Webseries Go Ekspor Barantin di Sumatera Utara, Rabu (16/9/2026).

PUSATKARIER.COM – Nilai ekspor lidi asal Sumatera Utara mencapai Rp197,29 miliar sepanjang Januari hingga awal September 2026. Angka tersebut melampaui capaian sepanjang 2025 sebesar Rp108,42 miliar.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Utara mencatat volume ekspor lidi mencapai 23,26 juta kilogram hingga awal September 2026.

Data tersebut dipaparkan dalam Webseries Go Ekspor Barantin edisi ke-10 yang digelar secara hibrida oleh Karantina Sumatera Utara, Rabu (16/9), dengan pembahasan mengenai perkembangan lidi Sumatera Utara di pasar dunia.

"Kupas Tuntas: Lidi Sumatera Utara Menembus Pasar Dunia", menjadi tajuk Webseries Go Ekspor Barantin edisi ke-10 yang membahas perkembangan ekspor lidi Sumatera Utara, dikutip dari laman karantinaindonesia.

Capaian nilai ekspor tersebut sudah melampaui nilai sepanjang 2025. Namun, volume hingga awal September 2026 masih berada di bawah capaian 2025 yang mencapai 34,18 juta kilogram.

Pada 2024, ekspor lidi Sumatera Utara tercatat 14,42 juta kilogram melalui 287 kali sertifikasi dengan nilai Rp66,39 miliar. Pada 2025, volumenya meningkat menjadi 34,18 juta kilogram melalui 676 kali sertifikasi.

Kepala Karantina Sumatera Utara N. Prayatno Ginting menyebut lidi sawit telah berkembang menjadi salah satu komoditas yang memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat daerah melalui pasar ekspor.

"Dari limbah menjadi primadona ekspor. Lidi sawit kini menjangkau berbagai pasar luar negeri dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat daerah," ujar Ginting.

Berdasarkan data Karantina Sumut, tiga pasar utama ekspor lidi Sumatera Utara sepanjang 2024 hingga 2026 adalah Pakistan, China, dan Vietnam. Pakistan menjadi penyerap terbesar.

Permintaan dari negara tujuan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesinambungan ekspor. Pelaku usaha juga perlu memenuhi persyaratan yang berlaku di masing-masing negara tujuan.

"Permintaan dari negara tujuan cukup besar dan terus berkembang, namun kunci keberlanjutannya tetap pada pemenuhan persyaratan negara tujuan agar keberterimaan dan kesinambungan ekspor tetap terjaga," kata Ginting.

Pada 2025, pengiriman lidi Sumatera Utara ke Pakistan mencapai lebih dari 24 juta kilogram. Selain tiga pasar utama, komoditas tersebut juga menjangkau Malaysia, Iran, Afghanistan, Thailand, Nepal, Mauritius, Uzbekistan, hingga Arab Saudi.

Pelabuhan Belawan tercatat sebagai pintu pengeluaran dengan frekuensi sertifikasi tertinggi, disusul Pelabuhan Tanjung Balai Asahan dan Bandara Kualanamu. Data tersebut menunjukkan jalur pengiriman lidi Sumatera Utara melalui sejumlah pintu ekspor.(*)