Dari Kursi Roda ke Panggung Wisuda, Mahasiswi Difabel Ini Tunjukkan Jalan Sukses di Dunia Kerja


PUSATKARIER.COM - Hidup di atas kursi roda tidak membuat langkah Eprisa Nova Rahmawati terhenti. Mahasiswi asal Banjarnegara ini berhasil lulus cumlaude dari Fakultas Teknik dan Sains Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Pada prosesi wisuda, Sabtu (20/9/2025), Eprisa merayakan pencapaiannya dengan cara istimewa. Ia menggelar pameran tunggal lukisan di kampus bersamaan dengan kelulusannya yang diraih dalam waktu empat tahun.

"Alhamdulillah, IPK saya 3,77. Lulus tepat empat tahun," ujar Eprisa saat ditemui usai prosesi wisuda, dikutip dari laman UMP, Sabtu (20/09/2025).

Perjalanan menuju kelulusan tidaklah mudah. Saat duduk di bangku kelas 3 SMP, dokter memvonis adanya penyumbatan di sumsum tulang belakang yang membuat saraf motoriknya lumpuh. Sejak itu, Eprisa harus bergantung pada kursi roda.

"Waktu itu dunia rasanya berhenti. Saya takut, saya malu. Bahkan sempat menutup diri karena merasa minder," katanya.

Kehidupan kuliah menjadi titik balik. Eprisa mulai kembali membuka diri setelah menemukan dukungan lingkungan kampus yang ramah. Ia merasa diterima tanpa perbedaan meski dengan kondisi difabel.

"Awalnya saya takut bersosialisasi. Tapi di kampus, saya belajar membuka diri lagi. Teman-teman sangat humble dan tidak memperlakukan saya berbeda," ungkap penerima beasiswa penuh dari rektor ini.

Eprisa juga menyebut peran keluarga sebagai kekuatan utamanya. Ayahnya, Slamet Riyadi, bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Sulasih, membantu di sawah.

"Bapak-ibu sangat effort mendidik saya. Saya ingin buktiin ke mereka, anak disabilitas juga bisa sampai sarjana," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Selain akademik, Eprisa menyalurkan ekspresi melalui seni lukis. Bakat yang dipupuk sejak kecil ini kian berkembang setelah ia menggunakan kursi roda. "Kadang saya enggak bisa cerita langsung ke orang. Jadi saya tuangkan lewat kuas dan warna," katanya.

Pameran tunggal yang digelar saat wisuda memamerkan 20 karya lukisannya. Setiap lukisan menggambarkan perjalanan emosional sekaligus menjadi terapi yang menemaninya melewati masa-masa sulit.(*)